ANALISIS SWOT TERHADAP PERENCANAAN PRAKTIKUM
I. JUDUL PERCOBAAN
Uji keberadaaan boraks dalam makanan
II. TUJUAN PERCOBAAN
1. Untuk mengetahui bahaya boraks jika dikonsumsi.
2. Untuk mengetahui makanan yang terkontaminasi terhadap boraks.
III. TINJAUAN TEORITIS
Menurut Syah (2005), bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami, bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan dan untuk memperbaiki karakter pangan agar memiliki kualitas yang meningkat. Peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi pangan pada bab 1 pasal 1 menyebutkan, yang dimaksud dengan bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan kedalam makanan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan atau produk pangan.
Zat adiktif makanan adalah bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu atau bahan yang ditambahkan pada makanan ataupun minuman pada waktu proses atau pembuatannya dan terdapat pada hasil akhirnya (Pardiazi, 1980).
Pemakaian BTP (Bahan Tambahan Pangan) yang aman merupakan pertimbangan yag penting. Jumlah BTP (Bahan Tambahan Pangan) yang diizinkan untuk digunakan dalam pangan harus merupakan kebutuhan minimum untuk mendapatan pegaruh yang dikehendaki. Pada prinsipnya konsumen harus diberi informasi adanya bahan tambahan pangan (BTP) dalam bahan baku makanan. Pernyataan yang tertera atau etiket harus diberikan informasi adanya BT (Bahan Tambahan Pangan) kepada konsumen. Hal ini merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut (Baliwati, 2004).
Boraks (Na2B4O7.10 H2O) adalah kristal putih yang dapat larut dalam air dingin membentuk natrium hidroksida dan asam borat. Boraks mudah larut dalam air dan tidak berbau serta memiliki pH 9,5. Boraks maupun asam borat sebenarnya digunakan dalam industri non pangan karena memiliki sifat antiseptik dan biasa digunakan dalam industri farmasi sebagai ramuan obat seperti salep, bedak, obat pencuci mata, obat oles mulut, solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik, dan pengontrol kecoa (Suhada dan Rikky, 2012). Asam borat atau boraks (boric acid) merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak diizinkan digunakan sebagai campuran bahan makanan, boraks dalam air berubah menjadi natrium hidroksida dan asam borat (Syah, 2005).
Senyawa-senyawa asam borat ini mempunyai sifat-sifat kimia sebagai berikut : jarak lebur sekitar 171o C. Larut dalam 18 bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5 bagian gliserol 85%, dan tidak larut dalam eter. Kelarutan dalam air bertambah dengan penambahan asam klorida, asam sitrat atau asam tartrat. Mudah menguap dengan pemanasan dan kehilangan satu molekul airnya pada suhu 1000 C yang secara perlahan berubah menjad asam metaborat (HBO2). Asam borat merupakan asam lemah dengan garam alkalinya bersifat basa, mempunyai bobot molekul 61,83 berbentuk serbuk halus kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis (Khamid, 2006).
Pengaruhnya terhadap organ tubuh tergantung konsentrasi yang dicapai dalam organ tubuh, boraks merupakan racun bagi semua sel. Kadar tertinggi tercapai pada waktu diekstraksi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkan dengan organ yang lain. Dosis tertinggi yaitu 10-20 gr/kg berat badan orang dewasa dan 5 gr/kg berat badan anak-anak (Saparinto dan Hidayati, 2006).
Boraks meskipun bukan pengawet makanan sering pula digunakan sebagai pengawet makanan, selain sebagai pengawet, bahan ini berfungsi pula mengenyalkan makanan. Makanan yang sering ditambahakan boraks diantaranya adalah bakso, sosis, nugget, mie, kerupuk dan lontong. Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan-kekenyalan bakso khas yang berbeda dari bakso yang menggunakan banyak daging.
Kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, tekstur bagus dan renyah. Ikan basah yang tidak rusak selama 3 hari pada suhu kamar, insang berwarna merah tua dan tidak cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas formalin. Tahu yang berbentuk bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet hingga lebih dari 3 hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau menyengat khas formalin. Mie basah biasanya lebih awet sampai 2 hari pada suhu kamar 25°C, berbau menyengat, kenyal, tidak lengket, dan agak mengkilap (Yuliarti, 2007).
IV. ALAT DAN BAHAN
No. | Nama alat dan bahan | Jumlah |
1. | Pipet teteS | 1 buah |
2. | Alat penumpuk Larutan kunyit | 1 buah Secukupnya |
Saringan/ kertas saring | 1 buah | |
3. | Air | secukupnya |
4. | Sampel tahu putih | 1 buah |
5. | Sampel kerupuk | secukupnya |
6. | Sampel pempek | secukupnya |
7. | Mihun | secukupnya |
8. | Mie kuning | secukupnya |
9. | bakso | secukupnya |
V. PROSEDUR KERJA
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Buat ekstrak air kunyit terlebih dahulu dengan cara melumatkan kunyit dengan alat penumbuk lalu saring (tambahkan air sedikit).
3. Tumbuklah contoh makanan yang akan di uji hingga halus, dan letakkan dalam cawan petri ( dirumah di piring). Usahakan masing-masing bahan makanan tidak saling bercampur satu sama lain.
4. Tetesi masing-masing sampel dengan air kunyit, diamkan selama 3 menit.
5. Amati perubahan warna yang terjadi pada masing-masing sampel dan catat hasil.
6. Lakukan dengan cara yang sama pada sampel lainnya. kemudian catat hasil pengamatan dan simpulkan
VI. HASIL PERCOBAAN
Hasil percobaan tersebut tertuang dalam tabel berikut.
Jenis sampel makanan | Warna hasil reaksi |
bakso | Kuning |
Tahu putih | kuning |
pempek | kuning |
kerupuk | merah |
mihun | kuning |
Mie kuning | Merah |
Keterangan : -warna merah mengandung boraks
-warna kuning
tidak mengandung boraks
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, menunjukkan bahwa makanan yang ada di indonesia tidak semuanya mengandung bahan yang layak untuk di konsumsi. Seperti yang tampak dalam tabel percobaan tersebut, meskipun 1 dari 6 sampel yang mengandung boraks, itu juga menunjukkan bahwa ragam kuliner di indonesia masih perlu di waspadai. Karena boraks yang terkontaminasi dalam makanan akan memberikan pengaruh buruk yang besar terhadap tubuh. Khususnya kepada seseorang yang berada di usia pertumbuhan.
VII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa boraks merupakan kristal putih yang dapat larut dalam air dingin membentuk natrium hidroksida dan asam borat. Boraks mudah larut dalam air dan tidak berbau serta memiliki pH 9,5. Boraks maupun asam borat sebenarnya digunakan dalam industri non pangan karena memiliki sifat antiseptik dan biasa digunakan dalam industri farmasi sebagai ramuan obat seperti salep, bedak, obat pencuci mata, obat oles mulut, solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik, dan pengontrol kecoa (Suhada dan Rikky, 2012). Asam borat atau boraks (boric acid) merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak diizinkan digunakan sebagai campuran bahan makanan, boraks dalam air berubah menjadi natrium hidroksida dan asam borat (Syah, 2005).
Untuk mengetahui suatu bahan makanan yang mengandung boraks atau tidak, maka dapat dilakukan uji keberadaaannya sebelum di digunakan maupun di konsumsi. Uji tersebut disarankan karena menggunakan bahan dan alat yang sederhana dan mudah ditemui khususnya dalam kehidupan rumah tangga. Selain bahan dan alat yang sederhana, uji tersebut mudah digunakan dan dapat dilakukan dengan cepat. Untuk itu, tetaplah menjaga kesehatan khususnya dalam menjaga makanan yang dkonsumsi.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.pom.go.id/new/view/more/artikel/14/Apa-itu-Boraks-.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Boraks
https://www.academia.edu/11668913/Laporan_Uji_boraks_dan_formalin
Komentar
Posting Komentar